Majalengka — Upaya konfirmasi yang dilakukan wartawan Media Pemburu Kasus Kompas Grup terkait dugaan adanya kejanggalan dalam pengelolaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di salah satu SMK di wilayah Kadipaten, Kabupaten Majalengka, justru berujung pada ketegangan.
Alih-alih mendapatkan informasi dan penjelasan secara terbuka mengenai sejumlah pertanyaan yang disampaikan, wartawan mengaku justru mendapat respons yang dinilai tidak semestinya dari Kepala Sekolah, Arsadi.
Menurut Dedi, wartawan yang melakukan konfirmasi, Kepala Sekolah Arsadi diduga melontarkan perkataan bernada tantangan untuk berduel. Pernyataan tersebut dinilai tidak mencerminkan sikap yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang pimpinan lembaga pendidikan, terlebih ketika menghadapi pertanyaan dari insan pers.
Dedi pun mengaku geram dan menyayangkan sikap tersebut. Menurutnya, wartawan datang untuk menjalankan tugas jurnalistik, yakni meminta klarifikasi dan memperoleh informasi dari pihak yang berkompeten, bukan untuk mencari persoalan ataupun melakukan tindakan yang bersifat provokatif.
“Alih-alih kami mendapatkan informasi dan klarifikasi terkait penggunaan Dana BOS, justru muncul pernyataan yang bernada menantang duel. Menurut saya, bahasa seperti itu sangat tidak pantas keluar dari seorang kepala sekolah.
Seharusnya pertanyaan dijawab secara baik dan profesional, apalagi yang kami tanyakan berkaitan dengan penggunaan anggaran pendidikan,” ujar Dedi.
Ia menegaskan bahwa proses konfirmasi merupakan bagian penting dalam kerja jurnalistik untuk memastikan informasi sebelum diberitakan. Karena itu, menurutnya, perbedaan pandangan atau ketidaknyamanan terhadap pertanyaan wartawan seharusnya diselesaikan melalui dialog dan klarifikasi, bukan dengan perkataan bernada tantangan.
Dedi juga menyatakan tidak akan berhenti pada persoalan tersebut. Pihaknya berencana membawa dugaan adanya kejanggalan dalam pengelolaan Dana BOS tersebut kepada aparat penegak hukum untuk dilakukan penelusuran lebih lanjut.
“Kasus ini akan saya laporkan ke Kejaksaan Tinggi Jawa Barat. Saya ingin semuanya diperiksa secara terang dan profesional berdasarkan data. Kalau memang tidak ada penyimpangan, silakan dibuktikan melalui pemeriksaan.
Kami hanya ingin penggunaan anggaran pendidikan dapat dipertanggungjawabkan secara transparan,” tegasnya.
Sementara itu, terkait dugaan adanya pernyataan tantangan duel tersebut, pihak media masih memberikan ruang kepada Kepala Sekolah Arsadi untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab. Termasuk penjelasan mengenai penggunaan Dana BOS serta maksud dari pernyataan yang disampaikan saat proses konfirmasi berlangsung.
Redaksi menegaskan bahwa dugaan kejanggalan dalam pengelolaan Dana BOS tersebut belum merupakan kesimpulan adanya tindak pidana. Kebenaran mengenai dugaan tersebut sepenuhnya perlu dibuktikan melalui data, audit, maupun pemeriksaan oleh instansi yang berwenang.
Dedi, S, SH
0 Komentar